Langsung ke konten utama

cerpen

Ini cerpen :)

Ada seorang perempuan mungil sedang berjalan menelusuri sepanjang jalan berdebu. Ia kelihatan tua, tapi raut wajahnya selalu tersenyum, memancarkan cahaya terang bagaikan seorang gadis periang.
Perempuan tua itu kelihatan kurus kerempeng, yang kemudian tiba-tiba berhenti melangkah di suatu tempat tak berpenghuni, ia menunduk ke bawah, dan menatap ke arah bentuk menyerupai sosok tubuh, yang sedang duduk berjongkok, bungkuk merunduk terbungkus debu. Ia tak bisa mengenali lagi raut wajahnya. Ini mengingatkan dirinya pada kain sutra abu-abu menyelimuti tubuh manusia. Perempuan mungil dan kecil itu lalu menghampiri serta menyapanya dengan suara lembut, “Siapakah anda?”
Pancaran mata menatap hampa itu seperti tak bernyawa,  dan tampak lelah, “Aku? Kesedihan.” Bisiknya terbata-bata, suaranya lembut berirama sendu hampir tak terdengar.
“Oh, kesedihan,” Jawab perempuan mungil itu dengan rasa penuh bahagia, seakan-akan mendengar ucapan dari seorang teman akrab yang telah dikenal lama.
“Anda kenal saya?” Tanyanya curiga.
“Tentu saja aku tahu kau siapa, bukankah kau telah membimbing sebagian jalan hidupku?
“Ya, tapi..” Kesedihan agak tergagap, “Mengapa kau tak tinggalkan saja aku sendiri disini?”
“Mengapa aku harus meninggalkanmu, sayangku? Bukankah kau telah mengetahuinya, bagaimana nasib hidup setiap pengungsi yang diasingkan? Sebenarnya aku ingin bertanya ke kau, mengapa kau tampaknya begitu putus asa?” Tanya perempuan tua itu dengan penuh perhatian, lalu ditatapnya mata kesedihan. Wajah yang dulu teduh dan tenang itu kini berurai air mata kesedihan.
“Aku … Aku sedih,” jawab sosok berselimut abu itu, suaranya bergetar menahan pedihnya Kesedihan.
Perempuan tua itu lalu duduk di sampingnya, “Kau kelihatan begitu sedih,” katanya sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan penuh perhatian dan pengertian, “Ceritakanlah apa yang membuat kau begitu mendalam sedihnya.”
Kesedihan menghela napas dalam-dalam. Terbersit dibenaknya, apakah kali ini memang ada orang yang benar-benar ingin mendengarkan kisah keinginannya? begitu seringnya orang yang ditemuinya menjadi harapan keinginan dirinya.
“Oh, kau tahu itu,..” ia mulai hati-hati bercerita, “tak ada seorangpun yang menginginkanku. Ini sudah suratan hidupku, hanya sejenak hadir diantara orang-orang yang ingin denganku. jika aku datang menghampirinya, mereka itu seketika merasa takut, serta menghindarinya seperti aku ini wabah penyakit menular… “.
Kesedihan itu menelan air ludahnya, kemudian meneruskan tuturkatanya: “Mereka itu telah menciptakan kata-kata, yang di ucapkan untuk orang-orang yang ingin mereka asingkan, katanya: “Ah, hidup ini adalah sebuah pesta besar”, dan dengan kepalsuan tawa riangnya, menyebabkan perut mereka jadi kejang-kejang atau menderita gangguan pernapasan, katanya, “kekesalan membuat situasi semakin parah”
Namun kenyataannya mereka diserang sakit jantung, lalu katanya “Anda harus tetap bersama-sama”, tetapi malah di bahu dan punggung mereka terasa semakin sakit dan nyeri, kemudian katanya lagi, “Ah..mengeluh dan menangis hanya orang yang lemah, akhirnya mereka harus menahan air mata, yang membuat kepala mereka merasa hampir meledak karena terjangkit penyakit migraine akut. Atau mereka malah di bikin mati rasa, menjadi pecandu alkohol atau obat-obatan, sehingga mereka tidak lagi merasakan aku.”
“Oh ya, orang-orang ini memang sering kutemui” Jawab perempuan tua itu dengan penuh keyakinan akan penjelasan Kesedihan.
Gejolak perasaan Kesedihan seperti semakin tenggelam dalam ketidak berdayaanya,
“Padahal aku ini hanya ingin membantu orang lain. Bila aku sangat dekat dengannya, maka mereka itu bertemu dalam membangun rumah dirinya, dengan begitu mereka mampu menyembuhkan luka-lukanya sendiri. Sedih memiliki kulit sangat tipis, dan luka itu rasanya pedih serta menyakitkan. Penderitaan akan berlangsung lama, bila penyembuhan luka parahnya tidak ditangani sampai tuntas,”
Sejenak Kesedihan memandang Perempuan Tua itu, dan menatapnya sedih dengan penuh kekecewaan,
“Ugh..padahal siapa yang mau kubantu, yang tidak menangis akan menjadi nangis sampai mengeluarkan airmata, dengan begitu lukanya benar-benar bisa sembuh. Tapi bagi orang-orang yang tidak ingin kubantu, sebaliknya, malah mentertawakanku dengan bekas luka mereka yang masih memberkas, atau bahkan mereka penjarakan aku dengan lapisan baju besi masa lalunya, penuh dengan penderitaan sangat pahit rasanya…” Kesedihan tiba-tiba terdiam.
Suasana terasa menjadi hening dan mencekam, tak lama kemudian terdengar suara isak tangis Kesedihan. Menangis memang awalnya lemah, namun bisa menguat sampai akhirnya putus asa. Perempuan tua itu lantas mendekatkan tubuh sosok Kesedihan, dirangkulnya dalam pelukannya, lalu dihiburnya Kesedihan dengan kelembutan belaian sentuhannya, serasa dalam jiwa getaran keinginan dari tumpuhan harapannya.
“Menangislah, sedih,” bisiknya penuh kasih sayang. “Ketenangan akan memberimu kekuatan baru, mulai saát ini kau tak akan sendirian. Aku akan memandumu sampai putus asamu tidak lagi berkuasa dalam dirimu.”
Kesedihan tiba-tiba berhenti menangis. Ia duduk dan memandang teman barunya dengan heran, “Tapi ….. tapi .. siapakah kau?”
“Aku?” Tanyanya kembali pada Kesedihan, tiba tiba rambut Perempuan mungil dan tua itu kelihatan semakin memutih, yang kemudian ia tersenyum cerah bagaikan gadis muda yang periang, lalu jawabnya ceria “Aku, adalah Harapan.”




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika tuts berdansa #8

hah itu hanya mimpi ! Mana mungkin Eva sekarang berada disampingku saat ini .. Satrio melamun memikirkan sikap Eva yang berubah kepadanya. Dengan segelas mocca float ia mendinginkan otaknya dari hal-hal yang negatif tentang berubahnya sikap Eva kepadanya . tak terasa sudah jam 5 sore. Saat satrio melangkah keparkiran ia melihat perempuan mirip sekali dengan Eva. "eva ?.... Tetapi perempuan itu telah pergi. "ya, aku yakin sekali itu pasti eva. tapi dia naik mobil siapa? dan untuk apa dia ke mall ini, satrio pun sesegera mungkin pergi mengejar sedan berwarna hitam itu. Naas  ....... Siaaallll lampu merah !! Satrio pun langsung meminggirkan motornya dan mengambil telefon gengamnya. Tetapi ketika hendak menelepon Eva, mobil sedan hitam tiba-tiba menabrak satrio dari belakang.............

Bersama bi ati :)

Tepatnya pada tahun 1997, ketika kereta jurusan jakarta kota melaju dengan cepatnya, aku ayah dan ibuku pun pergi mengunjungi ancol jakarta. Kami sengaja tidak membawa motor kesayangan ayah itu, mungkin karna faktor jarak, dan faktor kenyamanan :) . Suatu ketika, didalam kereta, ayahku melihat seorang mba-mba, sepertinya ia sedang kebinggungan, singkat cerita ibu dan ayahku pun berkenalan dengannya, dan kesepakatan pun terjalin diantara mereka . Bi ati resmi bekerja di rumahku,hingga pada tanggal 7 februari 1999 aku mengikuti ayah kerumah sakit. Aku sempat binggung, karna waktu itu aku yang sedang asyiknya bermain dirumah tetangga tiba-tiba ayah membawaku begitu saja, berlalu bersama motor kesayangannya. Dan surprise ! aku mempunyai adik, devi eunike tarigan namanya :) . Kata ayah dulu nenek bela-belain datang ke jakarta untuk melihat cucu ke-2nya ini. Padahal jarak antara jakarta dan medan kan lumayan jauh.hehe. Akhirnya 7 tahun pun berlalu hingga usiaku menginjak 7 tahun, bi ati pun...

KANGEN DEPI

Sebelum membaca postingan saya ini, harap jangan membayangkan saya lebai. ini asli lho :D Sekarang, gue lagi dengerin lagunya Howl - For A Year Ya Tuhan, gue langsung inget depi ( adik gue yang tersayang satu-satunya  ) Dulu, dia bilang gini ke gue, "Ta, dengerin lagu ini deh, sedih banget tau" Gue yang waktu itu lagi males, bad mood, geu bilang gini ke dia "Ah lu mah semua lagu dibilang gitu semua, melankolis amat dah pi, kebanyakan nonton film korea tuh" Dia cuma jawab "yaudah kalau ga mau denger" dan langsung pergi. gue ngetik ini sampe nangis. astaga segitu kangennya gue sama ade gue ini. banyak banget cerita sama dia yang bikin gue sedih. contoh kecil aja pas mau  berangkat ke gereja bareng-bareng. gue kalau kegereja itu naik si biru ( motor Vega R gue yang biru ) bareng sama ade gue sama dea silalahi. Nah gue itu kalau yang namanya udah ketemu aspal, pengennya ya gitu, hahahaha Disitu depi selalu ngingetin gue "Jangan ngebut...